MUTIARA DI KAMPUNG HALAMAN

by: Rizkia Saputri

 

Liburan semester, hal yang paling dinantikan oleh hamper seluruh siswa. Pasalnya hiruk pikuk tumpukan tugas dan ujian-ujian tidak akan kami dengar beberapa minggu kedepan. Dan liburan kali ini, aku memutuskan untuk pergi ke rumah nenek, daripada di rumah aku hanya menghabiskan waktu untuk main gadget, kalau bukan untuk “Sosmed”-an ya main game. Setidaknya kalau aku pergi ke rumah nenek, aku bisa mencari udara segar meskipun aku tidak akan pernah bisa berpisah dengan gadget milikku. Namaku intan, aku siswa sekolah dasar. Hari pertama liburan di rumah nenek, momen yang tidak akan ku lewatkan begitu saja. Setelah mandi dan berpakaian rapi agenda pertamaku adalah membuka jendela kamar. Kenapa? Jawabanya karena pemandangan yang terlihat dari jendela kamar itu luar biasa bagus, indah dan sedap dipandang oleh mata. Lagi pula disini tidak banyak polusi, udaranya segar, masih banyak orang yang peduli dengan lingkungan. Tidak seperti di kota-kota besar.

“Intan…sarapan dulu nak! Suara yang selalu ku nantikan setiap pagi. Siapa lagi kalau bukan suara nenek tersayang.

 “Loh, pagi-pagi kok sudah tatap muka sama gadget, ayo sarapan dulu”., sambungnya lagi.

“iya nek.” Aku mengiyakannya dan bergebas untuk sarapan

Aku cepat-cepat sarapan agar bisa keliling kampong. Sarapan sudah beres, saatnya menuju bagasi dan mengambil sepeda biruku, punya kerancang di depan dan pastinya akan menjadi teman setia seharian ini. Kukayuh sepeda menyusuri jalanan setapak demi setapak sambil memandangi pemandangan yang indah, ditemani suara burung-burung saling bersiul saling bersahutan satu sama lain. Kukayuh sepeda semakin cepat, perjalanan kali ini tidak semulus perjalanan di awal. Aku harus beradu dengan tanjakan yang seakan memintaku untuk menguras seluruh tenaga. Tapi itu tidak sia-sia, pemandangan di yjung tanjakan ini tidak kalah indah dengan pemandangan yang kulihat sepanjang jalan tadi. Dari ketinggian terlihat hamparan sawah yang menguning dari atas jalan dan rumah-rumah penduduk yang terlihat bagai miniature. Tidak hanya itu, tantangan yang seru berikutnya adalah meluncur dari atas bukit, benar-benar terasa terbang.

Pemandangan terasa berbeda saat berada saat berada dibawah. Kali ini anak-anak yang sedang berkumpul dan asyik bermain. Aku berhenti sejenak dan membawa sepedaku untuk menepi ke tepi jalan. Aku berjalan sejenak dan membawa sepedaku menepi ke tepi jalan. Aku berjalan meninggalkannya menuju tempat anak-anak berkumpul. Kupandangi dengan saksama dari balik pagar. Gelak tawa terdengar jelas di telinga, rupanya mereka sedang asik memainkan mainan tradisional yang tidak asing bagiku.Melihat mereka bermain dengan riang, membuat aku kembali menerawang, ingatan masa kecilku kembali. Kalau tidak salah namanya egrang. Sebuah permainan tradisional yang terbuat dari dua pasang bamboo bulat yang panjangnya bervariasi, mulai dari 2 meter, hingga 3,5 meter dan diberikan pijakan kaki pada bagian bawahnya. Jarak antara ujung bamboo bawah dengan tempat pijakan, rata-rata hingga 1 meter.

Cara memainkannya memang sedikit sulit bagi pemula. Hal pertama yang harus dilakukan adalah berusaha berdiri tegak di atas egrang. Kedua kaki bertumpu pada tempat pijakan dan kedua tangan berpegangan paa bagian atas bamboo. Setelah menemukan titik keseimbangan dengan baik, barulah kita mulai melangkahkan kaki perlahan dan berjalanseperti biasa. Sungguh sangat sulit dan menguras tenaga, tetapi menyenangkan.Ketika sedang asyik mengambil foto mereka sedang bermain, tiba-tiba saja terdengar suara teriakan. “Intan……intan!”, suaranya terdengar memanggil namaku. Aku berbalik sambil memandangi seorang bocah lelaki seumuran denganku. Dia berjalan mendekatiku didertai nafasnya ter-engah-engah, dia memandangku seraya tersenym.

“Masih ingat aku?, ujarnya sambil mengernyitkan dahi.

“Mmm..,” aku berpikir beberapa saat, “Maaf siapa?”

“Astaga! Dia andi. Dia kan… kenapa aku bertemu lagi dengannya.” Gerutuku dalam hati.

            Dia sangat menjengkelkan. Sekarang aku ingat, kenapa permainan yang aku lihat tadi tidak asing bagiku. Iya, dulu waktu SD ada perlombaan egrang di sekolah. Andi bertanding denganku. Aku sebenarnya tidak terlalu bisa memainkannya, tapi karena dikira takut kalah bertanding dengannya, terpaksa aku ikut saja. Apa daya? Rasa Maluku berlipat dua . belum mencapai garis finish aku sudah jatuh. Semua orang yang melihat tertawa terbahak-bahak menjadikanku tontonan, tak terkecuali andi. Sedangkan aku hanya bisa merengek kesakitan sambil memegangi kakiku yang terluka. Sejak saat itulah, bagiku andi adalah anak yang menjengkelkan.

  “biasa aja kali tan, aku nggak bakalan nantangin kamu main egrang laki kok”, katanya membuyarkan lamunanku.

“Eh siapa juga yang takut?”, jawabku sok berani.

“Biasa aja kali, ayo ilut aku!”, ucapannya sambil menarik tanganku.

Dia mengajakku lebih dekat lagi dengan anak-anak yang bermain egrang itu dan duduk di teras rumah seseorang.

“Itu kelompok egrang milik ayahku”., suara andi mengalihkan perhatianku.

  Aku baru tahu, ternyata ayah andi yang mengelolanya. Kata andi, dia sangat prihatin dengan kondisi masyarakat kita saat ini, khususnya anak-anak. Mereka sudah tidak mengenal kebudayaan lokal yang kita miliki, khususnya permainan tradisional. Mereka hanya mengenal permainan modern yang diperoleh melalui gadget atau teknologi canggih lainnya. Sungguh miris melihat keadaan ini. Padahal permainan tradisional kita tidak kalah menarik dengan permainan modern. Salah satunya saja egrang ini. Permainan yang ramah lingkungsn, tidak membutuhkan banyak uang untuk memilikinya. Andai saja seluruh masyarakat mau bersama-sama melestarikan kebudayaan lokal yang kita miliki, sudah pasti Negara kita kan menjadi utama para wisatawan asing

Aku yang duduk disamping dan mendengar omongannya merasa tersinggung.

“Kamu nyindir aku ya?”, ucapku spontan sambil menoleh padanya.

“Tidak, memangnya kamu terasa tersindir?”, tanyanya lagi.

Terpaksa aku mengaku “ aku kan suka pake gadget, main egrang aja aku sering jatuh.”

“berate kamu sudah sadar tan, coba pikir, apa yang tidak dimiliki oleh Indonesia? Hanya saja kita yang terlena akan modernisasi yang semakin menina bobokan kita. Menjadikan kita manja dengan kehidupan praktis yang serba cepat”., jawabannya.

            Aku tercengang mendengarkan pembahasan andi tentang arti penting kebudayaan. Ternyata dia sangat mencintai kebudayaan, khususnya permainan tradisional. Dia seakan mengingatka aku akan pentingnya memiliki rasa cinta terhadap kebudayaan. Ketika kita merasa memiliki, maka kita akan selalu menjaganya, tidak akan membiarkannya hilang apalagi dirampas oleh orang lain.

“kamu bener ndi. Andai saja seari dulu aku menyadari hal itu”,. Ucapku setengah malu.

“Budaya lokal, cikal bakal lahirnya budaya nasional yang akan menjadi ikon atau penanda sebuah Negara. Ketika kebudayaan lokal tidak lagi terjaga , maka kebudayaan nasional alkan tergerus, dan jika kebudayaan nasional tergerus, maka tunggulah kehancuran bangsa ini. Oleh karena itu, marilah kita jaga mutiara-mutiara yang tersembunyi itu, dan jadikan dia bersinar sepanjang masa”. Sambung andi.

“Main egrang yuk, ndi?”, ajakku padanya.

“Apa? Beneran? Nggak takut jatuh lagi?”, jawabnya kaget setengah menyindir.

“Ya nggak lah. Udah deh nggak usah banyak nanya?”, ujarku setengah sebal.

“Biasa aja kali tan, ayo!”, sambunnya sambil mengulurkan tangannya padaku.

            Hari itu kuhabiskan untuk bermain egrang bersama andi. Sungguh, liburan kali ini adalah liburan yang sangat berharga bagiku. Aku bertemu andi, seseorang yang seakan menyadarkanku, bahwa sebagai anak bangsa yang baik, kita diharuskan untuk menjaga dan melestarikan kebudayaan lokal agar tidak musnah dan membiarkan mutiara=mutiara tersembunyi itu tetap bersinar sepanjang masa.

 

~SELESAI~

Komentar

Postingan populer dari blog ini